Image

Fast Fashion dan Krisis Lingkungan: Tren Murah yang Bikin Bumi Mahal Bayarnya

Fenomena Fast Fashion

Fast fashion adalah istilah buat industri pakaian yang memproduksi baju murah, cepat, dan sesuai tren musiman. Brand-brand besar berlomba menghadirkan koleksi baru setiap minggu atau bulan. Buat konsumen, ini menyenangkan karena harga terjangkau dan pilihan banyak. Tapi, buat bumi, dampaknya cukup mengkhawatirkan.


Limbah Tekstil Menumpuk

Menurut laporan dari Ellen MacArthur Foundation, setiap detik ada truk sampah penuh pakaian yang dibuang ke TPA atau dibakar. Industri fashion menyumbang sekitar 10% emisi karbon global dan jadi salah satu penyumbang limbah tekstil terbesar di dunia. Di Indonesia, tren belanja online juga bikin pakaian murah makin deras masuk pasar, mempercepat siklus konsumsi & pembuangan.


Polusi Air dan Mikroplastik

Produksi tekstil, terutama polyester, menghasilkan mikroplastik yang terbawa ke laut saat dicuci. UNEP melaporkan, mikroplastik dari pakaian sintetis menyumbang hingga 35% pencemaran mikroplastik di lautan. Ini berdampak serius pada ekosistem laut dan kesehatan manusia yang mengonsumsi hasil laut.


Dampak Sosial dan Ekonomi

Selain lingkungan, fast fashion sering dikaitkan dengan eksploitasi tenaga kerja murah di negara berkembang. Pekerja mendapat upah rendah dan kondisi kerja yang tidak layak. Jadi, masalah fast fashion bukan cuma soal polusi, tapi juga soal keadilan sosial.


Solusi: Fashion Berkelanjutan

Tren positif mulai muncul:

  • Thrifting & preloved: anak muda, terutama Gen Z, mulai gemar beli barang bekas yang masih layak.

  • Slow fashion: fokus pada kualitas, bahan ramah lingkungan, dan produksi terbatas.

  • Kampanye daur ulang: beberapa brand sudah menawarkan program tukar baju lama dengan diskon produk baru.


Kesimpulan

Fast fashion memang bikin gaya hidup terlihat stylish dengan harga murah, tapi biaya yang ditanggung bumi jauh lebih mahal. Polusi, limbah, dan ketidakadilan sosial jadi bayangannya. Menggeser tren ke slow fashion, thrifting, atau brand ramah lingkungan bisa jadi langkah kecil tapi berdampak besar untuk masa depan yang lebih hijau.


Referensi

  1. Ellen MacArthur Foundation. A New Textiles Economy: Redesigning Fashion’s Future.

  2. UNEP. Sustainability and Circularity in the Textile Value Chain.

  3. The Guardian. Fast Fashion is on the Rampage, with the UK at the Head of the Pack.

  4. World Bank. How Much Do Our Wardrobes Cost to the Environment?

  5. Kompas. Fast Fashion, Tren Murah dengan Dampak Lingkungan Besar.

Loader GIF